Penulis : Dra. Nia Suniawati (SLBN Garut)
Suatu ketika dengan berbunga-bunga anakku yang baru saja duduk di 2 SDIT mengatakan bahwa di sekolahnnya akan memanen wortel. Dengan bangga dia menanyakan “apakah ibu sudah tahu daun wortel?”. Dari binar matanya dia melihat kalau saya belum mengetahuinnya. Senyumnnya menggodaku. Tapi aku suka karena dia merasa bangga mengetahui sesuatu yang belum diketahui ibunya.
Inilah sekelumit cerita betapa berhargannya sebuah pengalaman. Saya memang hidup di daerah pertanian, namun untuk jenis tanaman tertentu ternyata di lingkungan terdekat tidak pernah menanamnya. Selama ini pengalaman tak pernah membuatku sampai untuk menjawab pertanyaan anakku.
Diam-diam aku banggga pada suamiku yang telah diberi keleluasaan oleh yayasan untuk mengelelola sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu dengan muatan tambahan antara lain di bidang pertanian. Saya melihat kegairahan yang luar biasa di sekolah tersebut. Baru kali ini saya melihat anak menantikan jemputan sekolah datang disambut dengan sangat antusias. Betapa tidak jam 6.15 dia sudah duduk nongkronng di pingggir jalan, sarapan pun dilakukkannya dengan sangat terburu-buru. Namun pulang sekolah anakku masih tetaf kelihatan fresh padahal jarak sekolah dan rumah cukup jauh, belum lagi berputar-putar mengantarkan temannnya karena dia yang paling terakhir ,waktu perjalannan mencapai satu jam dan tiba di rumah sekitar jam 3 sore.
Inilah rahasia yang ingin kusampaikan. Sejauh mata memandang selama ini kita melihat bahwa sekolah seringkali tergambar dalam memori adalah sebentuk banguan dengan rutinitas formal; anak-anak berbaris, masuk kelas, istirahat, masuk, pulang. Kalaupun ada tepukan kecil dan sorak sorai itu hanya berlangsung di kelas-kelas kecil seperti TK dan SD. Itupun dilakukan sesekali untuk sekedar memecah kejenuhan setelah itu berlalu saja karena kalau dilakukan berulangulang cukup membisingkan bagi kelas lain.
Intinya adalah ada kerinduan akan sekolah yang tidak membuat bosan bagi yang terlibat di dalamnya memang tidak serta merta tercipta begitu saja. Perlu perencanaan yang matang. Dan yang paling penting adalah mengidentifikasi perencanaan itu sebagai suatu kebutuhan yang kuat, yang akhirnnya menjadi syarat mutlak dalam format kegiatan belajar mengajar yang akan dilangsungkan.
Mulailah dari mimpi! Tak perlu biaya untuk bermimpi. Sekirannya saja penataan sekolah-sekolah sudah benar-benar sudah dirancang sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa, dan sekiranya pemerintah pun sudah sepenuh hati menempatkan kebijakannya dalam upaya menciptakan tunas bangsa yang segar, merdeka dan mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan belajarnnya. Mungkin tak ada lagi kejenuhan yang akan terdengar dalam proses belajar apapun.
Adalah Sekolah Luar Biasa yang senantiasa menyediakan program layanan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Seringkali program yang simpl sekalipun sulit dicapai keberhasilannya karena adanya masalah dalam diri anak itu sendiri. Seringkali kita terpaku seolah-olah keberhasilan belajar anak hanya dapat diukur di dalam kelas yang kadang ruangannnya lebih sempit dari ruangan kelas biasa. Kita pun menjadi terjebak pada rutinitas sekolah pada umumnnya.
Jangan lupa anak-anak yang dimasukan ke SLB kebanyakan mereka tertinggal dalam pemahaman konsep Mereka tidak dapat mengidentifikasi dan mengeksplorasi pengalamannnya secara sempurna. Entah karena terlalu khawatir atau malu. Sangat jarang dari mereka diberikan kesempatan bermain secara wajar sehingga mereka pun menjadi sangat miskin pengalaman, tactual, motorik, maupun mobilitasnya. Maka apabila datang ke sekolah dan yang sering mereka jumpai hanya guru plus tembok-tembok atau pun sekat ruangan kelas dengan pernak pernik alakadarnnya, apa yang mereka dapatkan dari pengalaman belajarnya? Jangan jadikan mereka orang termiskin di dunia.
Padahal dalam lubuk hati mereka merindukan dapat menagkap ikan yang kemarin berloncatan di kolam belakang rumahnnya. Namun ibunya selalu melarangnnya. Merekapun merindukan memberi makan domba temannya yang sering dilihat ketika ia lewat di rumahnya, namun ibunya tak pernah melepaskan genggaman tanggannya, bahkan ketika ia merajuk, ibunya menyeret pergi jauh… jauh. Ia ingin memetik jagung, mencium bau ladang, menikmati indahnnya berloncatan di pematang sawah mengejar pe tani yang sedang membajak sawah.
Wah! Apa ini terasa aneh.? Mungkin, jangankan di SLB untuk sekolah umumpun orang tua tidak serta merta menerima, kecuali mereka memahami tujuannya dengan baik. Tidak semua orang tua siap menerima anaknnya pulang dengan belepotan lumpur ataupun pasir. Bila ada sekolah yang memberi kesempatan siswanya untuk mendapatkan pengalaman seperti itupun kesannnya sekolah itu liar ataupun jorok karena membiarkan murid-muridnya bermain tanah. Intinya mereka keberatan karena ada tambahan ekstra membersihkan baju anaknnya yang super kotor.. Kiranya orang tua sudah memahami apa yang dimaksud oleh salah satu iklan layanan produk diterjen bahwa “kotor itu baik”, mungkin hasil eksplorasi pengalaman anak akan akan lebih banyak digali.
Sekali lagi lihatlah bisikan hati mereka, kebutuhan akan adannya konsep-konsep yang aktual dalam mengisi memori ensiklopedi mereka adalah tak terbantahkan.
Sering saya membayangkan berkunjung ke sebuah SLB dalam suasana yang berbeda. Dimana selain terdapat gedung sekolah dan mesjid terdapat pula areal pesawahan, kebun , kolam, sample kandang hewan ternak, bahkan”saung” yang semuannya ditata untuk siswa berkebutuhan khusus.. Mereka bebas mengeksplorasi pengalamannnya di sana. Sehingga tak ada lagi tarikan tanggan yang menyeret mereka karena takut atau khawatir anaknnya tercebur lumpur. Yang ada hanyalah tanggan-tangan lembut yang berusaha membimbing mereka agar mendapatkan pengalamannya dengan utuh.
Untuk menangkis timbulnya kebiasaan jorok karena anak diperbolehkan bermain dengan alam, maka kirannya pendekatan prilaku dapat diprogramkan secara cermat sehingga anak dapat terhindarkan dari kebiasaan jelek. Saya lebih cenderung untuk anak tunagrahita suasana belajar yang akan diprogramkan sebaiknnya ditata sebagaimana halnnya di rumah sehingga proses pembiasaan yang baik dalam menata ruangan , merawat barang-barang pribadi, bahkan mengatur kegiatan diri dapat dibiasakan secara intensif agar memperoleh hasil yang maksimal.
Contoh kecil ketika guru membiasakan menempatkan sepatu ditempat tertentu sebelum masuk kelas maka kebiasaan itu lama-lama tersimpan dalam memori anak dan otomatis ketika anak akan masuk kelas dia menyimpan sepatunya di tempat yang biasa dia menyimpannya. Itulah antara lain pengalam aktual yang saya maksud, ternyata lebih efektif untuk mereka dari pada hanya sebentuk seruan atau ajakan saja tanpa pengalaman langsung. Sama halnnya dengan pembiasaan “bahasa sosial” seperti mengucapkan/menjawab salam, menyapa teman, meminta izin, meminta maaf dan lain-lain, perlu dibiasakan dalam kontek komunikasi yang sebenarnnya. Semuanya menjadi ruang yang sangat luas untuk memberi intervensi yang diperlukan.
Itulah sekolah yang saya bayangkan, ditata sebagaimana halnya di rumah atau di “Lembur” sendiri, sehingga anak tiba di sekolah disambut dengan hangat karena keramahan yang sudah kita persiapkan. Tak ada kecanggungan apalagi ketakutan. Mereka diberi kebebasan untuk mengenal lingkunngannya dengan baik yang sudah dilengkapi dengan rambu-rambu perjalanan sehingga anak akan segera diberi reword manakala dia berhasil memperkaya kamus ensiklopedinnya, juga diberi penguatan yang sesuai bila anak berhasil melakukan kebiasaan baik dalam berhubungan dengan lingkungan di sekitarnnya. Mereka akan merasa betah karena sudah merasa berada di “Lemburnya” sendiri. Tentunya tak akan ada lagi rengekan meminta segera pulang, karena sudah tak mau belajar di sekolah. Semoga????
Uploaded by : Asep Mugianara (SIM PLB Jabar)
WACANA PAKET PENDIDIKAN LENGKAP MENUJU "LEMBUR SLB" SEBAGAI SARANA INTERVENSI PERILAKU DAN INTERVENSI SOSIAL DALAM PROSES PEMBIASAAN DAN PEMAHAMAN LINGKUNGAN
Dipasang Oleh : Administrator | Kamis, 04 Februari 2010
Artikel Lain
