Minggu, 05 September 2010
ISLAM MEMPERHATIKAN HAK ANAK

Penulis : ALFIN KHAERUDDIN PUAD



Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. Q.S. Al-Isra’: 31

Terdapatnya beberapa kasus bunuh diri akibat tidak kuatnya menanggung beban hidup keluarga, kenaikan harga sembako yang dirasa makin mencekik kehidupan rakyat kecil, jumlah anak gelandangan dan pengemis yang juga mengalami peningkatan, penganiayaan terhadap anak yang tidak berdosa sampai pembuangan bayi oleh orang tua yang tidak bertanggungjawab, merupakan pemandangan sehari-hari yang membuat semua orang bertanya-tanya, kenapa harus terjadi?.

Namun anehnya, fenomena di atas justru terjadi di sebuah negara yang konon rakyatnya mengaku “paling beragama”. Jika demikian, mungkinkah terjadi kesalahan sejarah. Karena jika warga Indonesia religius, tentunya mereka juga santun beradab, kehidupan berbangsa jadi teduh, demokratis dan yang terpenting keadilan sosial menjadi terjamin?. Tapi tampaknya berketuhanan dan ketaatan beragama tidak selalu terwujud dalam pembentukan manusia yang beradab, kebersatuan sebagai bangsa yang solid, berdemokrasi dengan jiwa besar dan tidak mau menang sendiri, serta keadilan sosial yang seharusnya dirasakan merata.



Jangan Sia-Siakan

Mendidik anak adalah tanggung jawab bersama antara ibu dan ayah, sehingga diperlukan pasangan yang sepemahaman dalam pendidikan anak. Jika tidak demikian tentunya sulit mencapai tujuan pendidikan anak dalam keluarga. Rasulullah SAW telah menginformasikan betapa besarnya tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak. Sabdanya: Tiap orang dilahirkan membawa fitrah, ayah dan ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Bukhari).

Al-Qurtubi dalam al-Jami li Ahkam al-Qur’an, Juz XIV hlm 25 menafsirkan kata fitrah dengan agama Islam. Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan. Dengan demikian, pada mulanya anak itu dilahirkan dengan membawa potensi yang perlu dikembangkan dalam dan oleh lingkungannya.

Sebenarnya ketika seorang anak dilahirkan ke dunia, ia telah membawa potensi dan potensi bawaan inilah yang dalam istilah Islam lebih dikenal sebagai fitrah. Dengan kata lain, fitrah merupakan kemampuan dasar, kecenderungan-kecenderungan yang murni bagi setiap individu, lahir dalam bentuk sederhana dan sangat terbatas kemudian saling mempengaruhi dalam lingkungan sehingga tumbuh dan berkembang menjadi baik.

Peran keluarga sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai pada anggotanya. Keluargalah lingkungan pertama yang akan membentuk watak seseorang. Bahkan dengan tegas al-Qur'an mengingatkan setiap pemimpin di dalam keluarga untuk menjaga diri mereka dan keluarganya dari siksa api neraka (Q.S. al-Tahrim [66]:6)

Keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.



Beri Kasih Sayang

Setelah hak hidupnya terpenuhi dengan segala sesuatu yang menyertainya, sejak awal berikanlah mereka nama yang bagus, karena nama dapat menunjukkan identitas keluarga, bangsa, bahkan keyakinan. Sebagai contoh; Ngatijan, Sukiyem sudah pasti orang Jawa, Situmorang, Sitorus jelas dari keluarga Batak, Asep, Ai tentu dari keluarga Sunda dan Alhabsyi biasanya menunjukkan keluarga Arab. Islam menganjurkan agar orang tua memberikan nama anak yang menunjukkan identitas Islam, suatu identitas yang melintasi batas-batas geografis, kekerabatan, rasial, dan etnis. Selain itu nama juga akan berpengaruh pada konsep diri seseorang.

Perhatian Islam tidak berhenti sebatas membaguskan nama anak, namun seorang anak harus mendapatkan pendidikan di lingkungan keluarga dengan didasari kasih sayang. Rasul SAW mengajarkan untuk mengungkapkan kasih sayang tidak hanya secara verbal, tetapi juga dengan perbuatan. Pada suatu hari Umar menemukan Rasul SAW merangkak di atas tanah, sementara dua orang anak kecil berada di atas punggungnya. Umar berkata: "Hai anak, alangkah baiknya rupa tungganganmu itu." Rasul SAW menjawab: "Alangkah baiknya rupa para penunggangnya". Betapa indah susasana penuh kasih sayang antara Rasul Saw dengan cucu-cucunya.

Anak-anak pertama kali mendapatkan hak pendidikannya di keluarga, sebelum mereka mendapatkan pendidikan di sekolah. Mereka mendapatkan pengajaran nilai-nilai tauhid dari kedua orang tuanya, demikian juga mengenai ajaran-ajaran Islam yang lain. Anak seharusnya mendapatkan pendidikan yang lebih banyak berupa contoh (teladan) dari kedua orang tuanya, di samping pendidikan dalam bentuk lisan, pembiasaan dan pemberian hadiah atau sanksi.

Bahkan Dorothy Law Nolte seorang pakar pendidikan pernah berujar: "if children live with criticism, they learn to condemn", artinya "jika anak dibesarkan dengan celaan, mereka akan belajar untuk memaki". Dengan demikian, jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan. Sebaliknya bila orang tua gagal mengungkapkan rasa sayang pada anak-anaknya, anak-anak tersebut tidak akan mampu menyatakan sayangnya kepada orang lain.

Dalam hal mendidik, nampaknya masih banyak orang tua yang selalu menganggap anaknya itu masih kecil, belum dapat berbuat atau mengerjakan sesuatu sehingga orang tua sering kali melarang anak-anaknya. Larangan seolah-olah merupakan alat mendidik satu-satunya yang dapat dipakai oleh para orang tua terhadap anaknya. Padahal pemahaman seperti ini sebenarnya kurang bijak. Seorang anak yang selalu dilarang dalam segala perbuatan dan permainannya sejak kecil dapat terhambat perkembangan jasmani dan rohaninya. Wallahu a'lam


Penulis adalah guru SLB-ABC Insan Sejahtera Kota Tasikmalaya.

Uploaded by : Asep Mugianara (SIM PLB Jabar)

Dipasang Oleh : Administrator | Kamis, 04 Februari 2010
A A A
Artikel Lain
Info PLB Jabar